- SIM motor kelas menengah(~400cc)大型二輪免許(401cc~)
- CB400SFCBR600RRGSX-R750
- XBOX360
- PS3
- Wii
Wanted List
Posted in Uncategorized on 2009年01月1日 by adokunAku
Posted in Minat_yang_dalam on 2007年11月14日 by adokunDalam blog ini akan terlihat banyak kata ‘aku’. ‘aku’ di sini menunjuk kepada pemilik blog ini, yaitu seorang manusia bernama adrian wahyu agusta.
Kenapa aku memilih ‘aku’ dan bukan ’saya’ atau ‘gw’? Mungkin ini disebabkan sudah tidak terbiasanya aku menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari karena -menurutku- aku sudah cukup lama tinggal di negeri orang(mungkin akan aku ceritakan di posting yang lain)sampai sulit memilih apa kata yang tepat untuk menunjuk diriku sendiri.
Mungkin teman-temanku terutama di Indonesia tidak terbiasa mendengar kata ‘aku’ di percakapan sehari-hari dan lebih sering mendengar kata ‘gw’. Akupun merasakan hal yang sama ketika aku masih berada di Indonesia. Akan tetapi sejak aku belajar di negeri orang(untuk selanjutnya saya sebut negeri X), aku menjadi jarang mendengar kata ‘gw’,’saya’, ataupun ‘aku’ itu sendiri.
Dalam masyarakat di mana aku tinggal sekarang, terdapat semacam image yang terbuat saat mereka mengatakan ‘aku’(yang tentu saja dalam bahasa X). Dalam Bahasa Indonesia, orang cenderung mengulang kata penunjuk orang pertama saat mereka bercerita tentang diri sendiri untuk mempertegas bahwa dalam kalimat berikutnya sang pencerita juga masih membahas hal yang menyangkut dirinya.
Sedangkan di negeri X, biasanya orang-orang hanya mengatakan sekali kata ‘aku’ dalam kalimat pertama, dan cenderung menghilangkan kata ‘aku’ untuk kalimat berikutnya jika sang pencerita masih membahas hal yang berkaitan dengan dirinya.
contoh:
-Bahasa Indonesia
Aku pergi ke sekolah. Setelah itu, aku mampir ke pasar dalam perjalanan pulang.
-Bahasa X(setelah diterjemahkan)
Aku pergi ke sekolah. Setelah itu, mampir ke pasar dalam perjalanan pulang.
Di sini kita bisa lihat bahwa dalam Bahasa Indonesia, kita cenderung tetap menggunakan ‘aku’ sebagai subjek kalimat walaupun di kalimat kedua masih mempunyai subjek yang sama dengan kalimat pertama dan akan merasakan seperti ada unsur yang hilang jika menghapus kata ‘aku’ dalam kalimat kedua.
Sedangkan dalam Bahasa X, jika pada kalimat kedua terdapat subjek yang sama dengan kalimat pertama, maka subjek pada kalimat kedua akan dihilangkan dan langsung mengatakan predikat kalimat tersebut tanpa adanya subjek.
Dalam Bahasa X, ini berlaku untuk semua subjek(baik orang pertama, orang kedua, orang ketiga, atau nama). Tapi ada yang unik dalam penggunaan kata penunjuk orang pertama dan kedua. Jika dalam kalimat kedua kata ‘aku’ diulang penggunaannya maka lawan bicara akan merasakan kesan bahwa pembicara adalah orang yang mempunyai sifat egois dan mementingkan diri sendiri.
Bagaimana jika dalam kalimat pertama dan kedua menggunakan kata ‘kamu’ secara berulang, maka yang timbul adalah kesan bahwa sang pembicara dan lawan bicara mempunyai hubungan yang jauh dan seolah-olah menaruh jarak dengan lawan bicara.
Bahkan sebenarnya, kata penunjuk orang kedua, dalam hal ini ‘kamu’, sangat jarang sekali digunakan dalam percakapan. Mereka lebih cenderung menggunakan nama lawan bicara daripada kata ‘kamu’. Karena ketika seseorang menggunakan kata ‘kamu’, akan timbul kesan bahwa sang pembicara mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari lawan bicara atau kesan bahwa sang pembicara sedang marah.
Oleh karena itu masyarakat bangsa X hanya menggunakan kata ‘aku’ dalam kalimat pertama, dan sangat jarang menggunakan kata ‘kamu’.
Bagaimana dengan kata ‘dia’? Saya tidak akan membahasnya di sini, karena topiknya akan meluas dan memperpanjang posting yang sudah panjang ini.
Melanjuti yang tadi, karena timbulnya kesan-kesan yang seperti tadi di negeri X, maka akupun terbiasa untuk tidak menggunakan kata ‘kamu’ dan cenderung menghilangkan kata ‘aku’. Dalam keadaan seperti itu, saat aku bertemu dengan orang Indonesia, aku menjadi agak kesulitan dalam memilih kata yang tepat untuk menunjuk diriku sendiri.
Gw, terasa tidak sopan sekali
Saya, terlalu kaku
Adrian, rasanya seperti membicarakan orang ketiga
Aku, inilah yang paling tepat rasanya
Dan sampai sekarang, akupun memakai kata ‘aku’ saat berbicara dengan orang Indonesia yang lain.